12 Keunikan Suku Aceh, Penghuni Serambi Mekkah yang Damai

Rumah Adat Suku Aceh
Rumah Adat Suku Aceh
0
(0)

Aceh merupakan provinsi paling Barat yang menjadi perbatasan Indonesia. Aceh juga terkenal dengan sebutan Nanggroe Aceh Darussalam. Suku yang mendiami provinsi ini biasa disebut suku Aceh.

Di Aceh tercatat ada sekitar 13 suku berbeda-beda, serta 11 bahasa daerah. Mayoritas penduduk di Aceh beragama Islam. Oleh karena itu, provinsi ini dijuluki sebagai Serambi Mekah.

Tercatat nenek moyang suku Aceh berasal dari berbagai daerah di luar Indonesia. Seperti Melayu, Arab, India, dan Semenanjung Malaysia.

Sejarah dan Asal Usul Suku Aceh

Ciri Khas Suku Aceh
Ciri Khas Suku Aceh

Sejak ribuan tahun lalu, Aceh memang sudah jadi tempat favorit persinggahan bagi para pedagang. Karena lokasinya yang sangat strategis dan juga kaya akan rempah.

Pulau Sumatera khususnya menjadi jalur perdagangan laut. Terutama mereka yang berdagang dari Timur Tengah ke cina, atau sebaliknya. Maka tak heran jika bangsa lain singgah dan akhirnya menetap di Aceh.

Mereka yang menetap inilah yang dianggap sebagai asal usul terbentuknya nenek moyang. Mereka menikah dan akhirnya membuat kebudayaan baru di sini.

Namun, ada juga yang mengatakan asal usul suku Aceh tak lain dari percampuran penduduk asli dan para pendatang. Suku Mante dan suku Lhan dianggap sebagai penduduk asli daerah ini.

Kebudayaan dan Fakta Unik Suku Aceh

Pada awalnya suku Aceh tercipta dari beragam budaya, sehingga mereka juga memiliki ciri-ciri tersendiri. Suku yang memiliki sistem kekerabatan bilateral ini juga dikenal dengan nuansa Islam yang kental. Tak heran jika beberapa adat istiadat suku ini dipengaruhi budaya Islam.

Berikut beberapa fakta unik dan kebudayaan suku Aceh yang menarik untuk kamu ketahui.

1. Ciri Khas

Selain rumah adat, tarian, pakaian adat, dan makanan khas, suku Aceh memiliki ciri-ciri sendiri. Suku ini dikenal sebagai salah satu suku yang agamis. Maksudnya memegang teguh aturan agamanya.

Pemerintah Aceh dikenal sebagai pemerintah yang juga menerapkan syariat Islam. Jika ada aturan yang dilanggar, hukumannya pun diberikan sesuai syariat Islam. Misalnya saja yang banyak beredar adalah hukum cambuk bagi mereka yang tertangkap melanggar norma susila.

Ciri khas lainnya terlihat dari cara berpakaian penduduknya yang sangat sopan. Sebagian besar wanita, terutama yangg beragama Islam diwajibkan menutup auratnya.

Begitupun kamu jika ingin bertamu ke Serambi Mekkah ini. Kamu harus selalu menggunakan pakaian yang sopan. Jangan sampai nanti malah tertangkap polisi syariat karena dianggap melanggar norma.

2. Rumah Adat

Rumah Adat Suku Aceh
Rumah Adat Suku Aceh

Rumah adat Aceh dikenal dengan nama Krong Bade atau Rumoh Aceh. Rumah ini berbentuk rumah panggung dan persegi panjang. Rata-rata tinggi rumah ini adalah 2,5 meter hingga 3 meter dari atas tanah.

Panjangnya berbeda-beda, tergantung pada penghuni rumah. Rumah adat ini seluruhnya dibangun dengan menggunakan kayu. Mulai dari tiang, rangka atap, hingga lantainya.

Atapnya sendiri dibangun dari anyaman daun rumbia atau daun enau. Meski dari anyaman daun, tapi tetap kuat dan tidak mudah bocor.

Selain bentuk dan bahan, rumah ini memiliki keunikan lainnya. Keunikan tersebut terdapat pada fungsinya.

Bagian kolong rumah biasanya digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Sedangkan bagian atas dibagi menjadi beberapa ruangan. Masing-masing berfungsi sebagai penerima tamu, ruang tidur, dan lainnya.

3. Tarian Adat

Tarian Adat Suku Aceh
Tarian Adat Suku Aceh

Tari Saman tentu saja akan masuk dalam list ini. Karena tarian adat ini memang salah satu tarian terkenal dari Aceh.

Tarian adat yang mengandalkan gerakan tangan ke dada ini tidak diiringi musik sama sekali. Namun tepukan tangan justru terdengar seperti musik yang unik. Tari Saman sangat mengandalkan kekompakan penarinya, salah satu saja bisa berantakan semua.

Tari Saman sudah diakui dunia sebagai salah satu warisan dunia milik Indonesia. Hal ini diresmikan UNESCO pada tahun 2011.

Selain Saman, ada juga tari Seudati. Tarian ini diambil dari dua kalimat syahadat. Oleh karena itu, tarian ini menjadi media dakwah dalam menyiarkan agama Islam. Gerakannya yang gembira menggambarkan kebersamaan.

Selain dua tarian itu masih ada banyak tarian Aceh lainnya. Misalnya tarek pukat, likok pulo, dan ratoeh duek.

Baca juga tentang Pantai Sorake Nias, Tempat Favorit Peselancar di Sumut.

4. Pakaian Adat

Pakaian Adat Suku Aceh
Pakaian Adat Suku Aceh

Pakaian adat Aceh hanya dikenakan pada saat-saat tertentu. Seperti acara pernikahan atau upacara adat.

Pakaian adat asli Aceh terdiri dari dua jenis. Pertama pakaian adat untuk laki-laki yang disebut dengan Linto Biro. Sementara pakaian adat untuk wanita disebut sebagai Daro Buro.

Laki-laki akan menggunakan baju Meukasah dan Cekak Musang. Baju Meusakah adalah atasan berwarna hitam yang dilengkapi hiasan warna emas. Sedangkan Cekak Musang adalah celana panjang yang longgar.

Daro Buro yang digunakan wanita terdiri dari baju kurung berlengan panjang dan celana cekak musang. Kerah baju kurung ini biasanya seperti kerah pada cheongsam atau pakaian Cina.

Celana dan baju yang longgar ini merupakan salah satu pengaruh dari kebudayaan Melayu Islam. Biasanya pakaian wanita dipadukan dengan jilbab atau kerudung sebagai penutup rambut.

5. Upacara Adat

Budaya upacara adat di Aceh tidak hanya ada di acara pernikahan saja. Namun, beberapa acara adat juga digelar untuk memperingati hari-hari tertentu.

Salah satunya adalah peutron aneuk yang digelar untuk memperingati kelahiran anak. Pada saat upacara ini, para tetua akan merentangkan kain di atas kepala anak yang dipegangi. Kemudian kelapa dibelah di atas kain yang direntangkan tersebut.

Kelapa yang telah dibelah akan diberikan kepada orang tua anak tersebut. Harapannya agar keluarga mereka hidup rukun. Biasanya upacara ini digelar pada hari ketujuh atau ke-44 setelah bayi lahir.

Ada juga tradisi meugang yang digelar sebelum Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha. Saat acara ini seisi rumah akan wangi oleh masakan daging kambing atau sapi. Kemudian kerabat, keluarga, anak yatim dan kaum dhuafa akan menikmati makanan ini bersama-sama.

Tujuan diselenggarakannya tradisi ini tak lain adalah untuk berbagi. Sebelum menyambut hari-hari suci, masyarakat Aceh dengan senang hati berbagi dengan sesama.

6. Bahasa Adat

Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, tercatat setidaknya ada 11 bahasa daerah di Aceh. Perbedaan ini ada karena adanya 13 sub suku yang tinggal di Nanggroe Aceh Darussalam.

Bahasa adat yang biasa digunakan di antaranya bahasa Aceh, Aneuk Jamee, Gayo, Alas, Singkil, Tamiang, Devayan, Kluet, Pakpak, Sigulai, Lekon, Nias, dan Haloban. Bahas ini dipergunakan di daerah masing-masing.

Misalnya seperti Aneuk Jamee adalah bahasa utama yang digunakan di kota Tapaktuan. Sementara bahasa Gayo biasanya digunakan di kawasan tanah tinggi Gayo. Sedangkan mereka yang berada di perbatasan dengan Sumatera Utara biasanya menggunakan bahasa Tamiang.

Hal unik juga terdapat dalam bahasa Alas yang digunakan di Kabupaten Aceh Selatan. Kosakatanya memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Batak Karo. Beberapa ahli mengatakan bahwa bahasa Alas merupakan turunan dari bahasa Batak Karo.

Namun, masyarakat Aceh menolak pemberian label Batak pada suku mereka. Alasan utamanya karena perbedaan agama yang dianut. Sebagian besar penduduk Aceh Selatan beragama Islam.

7. Makanan Khas

Pengaruh budaya India dan Arab sangat terasa pada makanan khas Aceh. Makanan khasnya kaya akan rempah-rempah seperti merica, jahe, ketumbar, cengkeh, bahkan kayu manis dan kapulaga.

Beberapa cara pengolahannya pun sedikit mirip. Seperti kamu temukan dalam roti canai yang mirip dengan roti protta milik India.

Tentu saja makanan-makanan ini tidak boleh kamu lewatkan saat berkunjung ke Aceh. Terutama Mie Aceh, sie reuboh, dan keumamah.

Mie Aceh mungkin bukan makanan yang aneh di telinga, bahkan di kota-kota besar biasanya sudah ada cabang mie Aceh yang terkenal.

Sie reuboh adalah olahan daging sapi atau kerbau yang dicampur dengan cuka enau. Rasanya jadi sangat khas.

Sementara keumamah adalah ikan tongkol dan cakalang yang diawetkan melalui berbagai proses. Dari pembersihan, perebusan, pengeringan, hingga akhirnya disimpan. Ikan ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun.

Resep-resep tradisional tertentu ada yang menggunakan ganja sebagai penyedap. Tentu saja dengan takaran tertentu sehingga tidak menimbulkan efek buruk. Tapi kini bahan tersebut sudah tidak digunakan.

8. Mata Pencaharian

Sejak zaman dulu penduduk Aceh terkenal akan keahliannya dalam berdagang. Masa kejayaan perdagangan Aceh terjadi sekitar tahun 1607-1636, tepatnya saat masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Bahkan pedagang Aceh mampu bersaing dengan pedagang dari Eropa.

Saat ini masih ada suku Aceh yang melakukan perdagangan dan merantau ke luar. Namun, komoditas yang diperdagangkan bukan hanya rempah-rempah seperti zaman dulu.

Sebagian besar masyarakat Aceh juga menggantungkan hidupnya sebagai petani. Mereka biasanya menanam di sawah atau ladang.

Hanya saja perairan di Aceh tidak sebaik di Pulau Jawa. Seringkali di beberapa daerah, mereka harus bergantung pada hujan yang turun.

Oleh karenanya, membuka ladang atau huma jadi pilihan terbaik mereka. Sebab tidak memerlukan banyak air unruk mengelolanya.

9. Agama

Masjid Baiturrahman Aceh
Masjid Baiturrahman Aceh

Dengan penerapan syariat Islam dalam sistem pemerintahan daerahnya, sudah bisa ditebak agama yang paling banyak dianut. Yap, agama Islam menjadi agama mayoritas di Aceh.

Di Kota Banda Aceh saja tercatat sebanyak 222.582 orang menganut agama Islam. Sisanya menganut agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha.

Meski diterapkan peraturan yang mengacu pada agama Islam, semua bisa hidup berdampingan dengan rukun. Semua warga tetap saling menghormati satu sama lain.

Baca juga : Pulau Biawak Indramayu 2022 Biaya Paket Wisata + Lokasi Alamat

10. Alat Musik

Nuansa kesenian Timur Tengah bisa kamu temukan dalam alat musik Aceh. Salah satunya terdapat dalam Arbab. Arbab bisa dibilang sebagai alat musik yang cukup tua dalam dunia kesenian Aceh.

Alat musik gesek ini bentuknya mirip dengan rebab, biasanya terbuat dari tempurung kelapa, kayu, dan kulit kambing. Sementara itu penggeseknya yang disebut Go Arbab terbuat dari rotan, kayu, dan serat tumbuhan.

Di zaman penjajahan Belanda, alat musik ini digunakan dalam pesta hiburan rakyat atau pasar malam. Tapi kini sudah hampir punah dan sulit ditemukan.

Bangsi Alas adalah alat musik tiup tradisional unik dari daerah Alas. Pembuatannya dikaitkan dengan keberadaan orang meninggal di tempat Bangsi dibuat. Jika ada yang meninggal biasanya Bangsi yang siap dibuat akan dihanyutkan di sungai.

Setelah dihanyutkan, Bangsi akan diambil oleh anak-anak kemudian si pembuat. Dengan cara ini diyakini suara Bangsi yang dibuat akan semakin merdu.

Alat musik tradisional Aceh lainnya yang bisa kamu temui adalah serune kalee (serunai), tambo, dan geundrang (gendang). Ada juga alat musik tiup yang terbuat dari tanduk kerbau yang biasanya disebut bereguh.

11. Bahasa

Selain menggunakan bahasa sub suku masing-masing, orang Aceh juga menggunakan bahasa lainnya. Bahasa yang digunakan antara lain bahasa Aceh, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia.

Bahasa Aceh merupakan bahasa yang umumnya bisa dimengerti oleh semua suku yang ada di Aceh. Bahasa ini jadi kebanggaan masyarakat Aceh.

Meski kosakatanya sama, tapi pengucapan bahasa ini biasanya berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh dialek yang dimiliki tiap suku.

Contohnya terlihat jelas saat kamu menyimak masyarakat Aceh Utara dan Aceh Besar mengobrol. Pelafalan huruf ‘R’ keduanya sangat bertolak belakang. Namun, masing-masing masih mengerti apa yang diucapkan.

Selain bahasa Aceh, penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia lazim kamu temui. Kamu tidak akan kesulitan berkomunikasi ketika berkunjung ke Aceh.

12. Senjata Tradisional

Senjata tradisional Aceh yang paling populer adalah Rencong. Senjata ini pertama kali digunakan pada masa Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Menurut catatan sejarah Aceh, ialah sultan pertama Aceh yang memimpin Aceh. Sehingga rencong dianggap sebagai senjata tradisional yang cukup tua usianya. Rencong merupakan lambang keberanian dan kegagahan orang Aceh.

Biasanya rencong yang digunakan Sultan dan bangswan dengan rencong orang biasa cukup berbeda. Sultan dan bangsawan biasanya menggunakan rencong yang terbuat dari emas dan sarungnya dari gading.

Sementara rakyat biasa menggunakan rencong yang terbuat dari besi putih atau kuningan. Dan sarungnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau atau kayu.

Selain rencong, Aceh juga memiliki beberapa senjata tradisional lainnya. Di antaranya ada siwah, meucugek, meupucok, pudoi, peudeung, dan bambu runcing.

Penutup

Suku Aceh merupakan suku yang kaya akan budaya. Asal usul terbentuknya suku ini tak lepas dari pencampuran beragam kebudayaan. Termasuk dari Melayu, India, dan Arab. Hal ini jadi kelebihan tersendiri bagi masyarakat Aceh.

Meski banyak terpengaruh budaya agama Islam, namun masyarakatnya bisa hidup dengan rukun. Aceh harus masuk dalam list tujuan destinasi wisata yang akan kamu kunjungi. Bukan keindahan alamnya saja yang bisa kamu nikmati, tapi juga keragaman budaya yang menarik.

Berapa penilaian untuk tempat ini?

0 / 5. 0